Music Puisi

Music Puisi

Syair Puitik Iwan Fals (1)

0
Virgiawan Listanto (lahir di Jakarta, 3 September 1961) yang populer dengan nama Iwan Fals
adalah seorang Penyanyi beraliran Balada, Pop, Rock, dan Country. Pria ini menjadi salah satu legenda di Indonesia. Karya lagunya banyak memuat kritik sosial-politik dan cukup puitis untuk dinikmati.

Berikut ini adalah kutipan syair lagu-lagu Iwan Fals yang cukup puitis (seri 1):

Kau paksa kami untuk menahan luka ini,,
sedangkan kau sendiri telah lupa
( Luka Lama)

Usiamu tak lagi muda untuk terus terusan terjajah
jangan lagi membungkuk bungkuk
agar dunia mengakuimu
(Merdeka)

Nyatakan saja apa yang terasa
walau pahit,
jangan disimpan
jangan dipendam
merdekakan jiwa
(Nyatakan Saja)

Hukum alam berjalan menggilas ludah,
hukum Tuhan katakan sabar
(kemarau)

Tak ada yang lepas dari kematian,
tak ada yang bisa sembunyi dari kematian,pasti
 (ikan-ikan)

Hidup ini indah berdua semua mudah,
yakinlah melangkah jangan lagi gelisah 
(kasacima)

Hei jangan ragu 
dan jangan malu 
tunjukan pada dunia 
bahwa sebenarnya kita mampu 
(bangunlah putra putri pertiwi)

Cepatlah besar matahariku,
menangis yang keras janganlah ragu,
hantamlah sombongnya dunia buah hatiku,
doa kami di nadimu
(galang rambu anarki)

Jalan masih teramat jauh 
mustahil berlabuh bila kail tak terkayuh
(maaf cintaku)

Jangan kau paksa untuk tetap terus berlari, 
bila luka di hati belum terobati
(berkacalah jakarta)

Riak gelombang suatu rintangan ingat itu 
pasti kan datang,karang tajam sepintas seram,
usah gentar bersatu terjang
(cik)

aku tak sanggup berjanji hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini entah esok hari,entah lusa nanti(entah)

mengapa bunga harus layu setelah kumbang dapatkan madu,mengapa kumbang harus ingkar ?setelah bunga tak lagi mekar(bunga-bunga kumbang-kumbang)

ternyata banyak hal yang tak selesai hanya dengan amarah (ya ya ya oh ya)

dalam hari selalu ada kemungkinan dalam hari pasti ada kesempatan(selamat tinggal malam)

kota adalah hutan belantara akal kuat dan berakal,menjurai didepan mata siap menjerat leher kita(kota)

jangan kita berpangku tangan teruskan hasil perjuangan  dengan jalan apa saja yang penting kita temukan(lancar)

jangan ragu jangan takut karang menghadang bicaralah yang lantang jangan hanya diam(surat buat wakil rakyat)

kau anak harapanku yang lahir dijaman gersang,sgala sesuatu ada harga karena uang(nak)

seperti udara kasih yang engkau berikan ,tak mampu ku membalas(ibu)

memang usia kita muda namun cinta soal hati biar mereka bicara telinga kita terkunci(buku ini aku pinjam)

dendam ada dimana mana dijantungku dijantungmu dijantung hari hari(ada lagi yang mati)

hangatkan tubuh dicerah pagi pada matahari,keringkan hatu yang penuh tangis walau hanya sesaat(perempuan malam)

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default